Diskusi Pengukuran Pedoman dan Pelaporan Emisi Pengurangan Gas Rumah Kaca (GRK) Pembangkit Listrik

30 Juli 2019

Perwakilan Direktorat Tenik dan Lingkungan (Dirtekling) dan Direktorat Konservasi Energi (DEK) dari Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) serta para tenaga ahli menghadiri pertemuan untuk membahas dua usulan metodologi aksi mitigasi untuk efisiensi energi bagi pembangkit dan jaringan listrik pada 29 Juli 2019 di Depok, Jawa Barat. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) dari Kementerian ESDM, USAID Indonesia Clean Energy Development II (ICED II) dan United Nations Development Programme (UNDP) Market Transformation Through Renewable Energy and Energy Efficiency (MTRE3) menyelenggarakan kegiatan diskusi tersebut

Ini merupakan kegiatan lanjutan dari diskusi pertama bulan April 2019 yang membahas garis besar pedoman aksi mitigasi dan dilanjutkan dengan pelatihan nasional mengenai aksi mitigasi disektor pembangkit pada bulan Mei.  Bulan berikutnya, USAID ICED II mengadakan diskusi kedua yang membahas metodologi penghitungan aksi mitigasi dari di pembangkit listrik energi terbarukan.

Benhur P.L Tobing, Kepala Sub Direktorat Perlingungan Lingkungan Ketenagalistrikan, DJK dari Kementerian ESDM dalam pembukaan acara mengemukakan harapannya agar pertemuan ini dapat menghasilkan konsep usulan metodologi aksi mitigasi yang dapat mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) melalui upaya peningkatan efisiensi baik di pembangkit dan jaringan transmisi distribusi.

“Konsep metodologi yang sudah disepakati bersama selanjutnya akan disampaikan kepada tim panel metodologi KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan). “

Acara ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran bagi DJK dari Kementerian ESDM dalam mengidentifikasi potensi aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca di subbidang ketenagalistrikan untuk menetapkan kebijakan terkait penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat nasional.

DJK dari Kementerian ESDM akan mengembangkan pedoman penghitungan dan pelaporan aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca di subbidang ketenagalistrikan. Pedoman ini dapat menjadi acuan untuk menghitung dan melaporkan aksi mitigasi pengurangan emisi gas rumah kaca dari subbidang ketenagalistrikan.

Pemerintah Indonesia memproyeksikan emisi GRK dari sektor energi pada tahun 2030 akan meningkat hampir empat kali lipat dibanding dengan emisi GRK tahun 2010 seperti yang tertuang dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, potensi pengurangan emisi gas rumah kaca di subbiddang ketenagalistrikan dapat dilakukan melalui pengembangan energi baru dan terbarukan, fuel switching, serta penggunaan teknologi rendah karbon dan efisien.

Dalam pertemuan diskusi para tenaga ahli dan DJK turut memberikan masukan dan perbaikan terhadap konsep usulan metodologi yang sudah dikembangkan oleh tim USAID ICED II. Pedoman pengembangan mitigasi untuk GRK, diharapkan dapat membantu PLN dan pembangkit listrik independent (IPP) dalam memantau dan melaporkan tindakan mitigasi mereka. Pedoman ini juga akan berkontribusi terhadap target pengurangan emisi Indonesia sebanyak 29% pada tahun 2030.

Diskusi kelompok berikutnya akan dilaksanakan pada bulan Agustus mendatang dan membahas mengenai usulan konsep metodologi untuk kegiatan retrofitting dan penggunaan teknologi batu bara yang lebih efisien (clean coal technology).