Manfaat Drone untuk Proyek Pembangkit Listrik

12 Maret 2020

Melakukan survai lokasi proyek pembangkit listrik tenaga minihidro merupakan pekerjaan yang menantang dan dapat menelan banyak biaya. Pada umumnya, pemetaan topografi dengan cara konvensional menghasilkan data yang kurang akurat. Dengan perkembangan teknologi, drone atau pesawat tanpa awak menjadi alat alternatif untuk pemetaan topografi

Pada 11 Maret 2020 di Jakarta, USAID Indonesia Clean Energy Development II (ICED II) memperkenalkan penggunaan drone sebagai sebuah metode yang terjangkau, efisien dan akurat untuk membuat peta topografi guna merancang lintasan proyek pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTM). Sebanyak 80 peserta yang terdiri dari para pengembang, konsultan, kontraktor, staf Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) serta Perusahaan Listrik Negara (PLN) berpartisipasi dalam seminar ini.

Seminar ini membahas tentang aplikasi praktis penggunaan drone untuk pemetaan topografi di tiga proyek PLTA di Sulawesi Selatan, Jawa Barat dan Sumatera Utara dengan kapasitas terpasang 5 MW, membandingkan penggunaan drone dengan metode pemetaan konvensional dan meninjau teknologi seperti LIDAR (light detection and ranging),  sebuah teknologi untuk mengukur jarak menggunakan sinar laser.

Pembicara yang hadir dalam seminar ini adalah Irendra Radjawali dari Eidara Mata Presisi dan Daniel Adi Nugroho dari TOP Aerial, keduanya merupakan perusahaan penyedia data geospasial menggunakan drone.

Radja dari Eidara Mata Presisi menjelaskan bahwa mereka mengolah data yang diambil drone dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence). “Hasil dari pengolahan data inilah yang akhirnya bisa jadi dasar pembuatan keputusan bagi pengembang.”

Berprofesi sebagai tophographic surveyor, Daniel Adi Nugroho, Technical Director Top Aerial dalam presentasinya mengatakan pemetaan menggunakan drone tipe LIDAR menghasilkan gambar yang lebih rinci. “Ini merupakan poin penting mengingat karakter lokasi proyek pembangkit listrik tenaga minihidro sering kali menantang dengan adanya medan yang terjal, curah hujan tinggi, vegetasi yang beragam serta kondisi hutan yang lebat.” Kondisi di atas membuat pengumpulan data secara manual lebih sulit alih-alih menggunakan drone tipe LIDAR.

Peserta antusias mengikuti seminar. Pasa peserta ingin mengetahui durasi pengerjaan survai menggunakan drone jika lahan yang ingin dipetakan cukup luas, tingkat akurasi data yang dihasilkan drone serta batasan pemesanan jasa pemetaan,  mengingat luas lokasi pembangkit listrik tenaga minidiro kecil sekitar 30-40 hektar.

Dalam penutupan seminar, Senda Hurmuzan Kanam, Kepala Subdirektorat Kerja Sama Ketenagalistrikan pada Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menyampaikan apresiasinya kepada USAID ICED II atas terselenggaranya kegiatan ini. “Informasi yang dibagikan hari ini sangat membanggakan karena merupakan hasil karya anak bangsa. Dari sisi pemerintah, (metode) ini dibutuhkan untuk mengembangkan energi terbarukan. Kami harap teknologi seperti ini dapat terus diterapkan.”