Pelaku Ketenagalistrikan Siap Laporkan Aksi Mitigasi Gas Rumah Kaca Subbidang Ketenagalistrikan

3 Mei 2019

Jakarta. Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) dari Kementerian ESDM akan mengembangkan pedoman penghitungan dan pelaporan aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca di subbidang ketenagalistrikan. Pedoman ini dapat menjadi acuan untuk menghitung dan melaporkan aksi mitigasi pengurangan  emisi gas rumah kaca dari subbidang ketenagalistrikan.

Sektor energi adalah penyumbang terbesar bagi emisi gas rumah kaca Indonesia karena pada tahun 2030, emisi gas rumah kaca sektor energi akan mencapai 60 persen dari total emisi gas rumah kaca nasional. Menurut Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2019-2028, potensi pengurangan emisi gas rumah kaca di subbiddang ketenagalistrikan dapat dilakukan melalui pengembangan energi baru dan terbarukan, fuel switching, serta penggunaan teknologi rendah karbon dan efisien.

Pada 3 Mei 2019 di Jakarta, DJK Kementerian ESDM bekerja sama dengan USAID ICED II dan UNDP MTRE3 menyelenggarakan workshop aksi mitigasi emisi gas rumah kaca subbidang ketenagalistrikan. Kegiatan ini bertujuan memberikan pemahaman lebih baik bagi perusahaan pembangkit listrik agar berpartisipasi secara aktif demi mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat nasional. Acara ini juga diharapkan dapat memberikan gambaran bagi DJK Kementerian ESDM dalam mengidentifikasi potensi aksi mitigasi penurunan emisi gas rumah kaca di subbidang ketenagalistrikan untuk menetapkan kebijakan terkait penurunan emisi gas rumah kaca di tingkat nasional.

“Kami berharap agar workshop ini dapat meningkatkan pemahaman pihak pembangkit listrik tentang aksi mitigasi gas rumah kaca sub bidang ketenagalistrikan serta dapat memberikan gambaran bagi DJK KESDM dalam pengembangan pedoman aksi mitigasi penurunan emisi GRK subbidang ketenagalistrikan,” kata Ir. Wanhar, Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan, DJK ESDM memberikan apresiasi kepada USAID ICED II atas terlaksanannya acara hari ini.

Sebagai tindak lanjut dari kegiatan ini, USAID ICED II akan mendukung DJK untuk menyusun pedoman penghitungan dan pelaporan mitigasi gas rumah kaca dari subbidang ketenagalistrikan, serta sosialisasi lanjutan pengukuran, pelaporan dan verifikasi aksi mitigasi gas rumah kaca di subbidang ketenagalistrikan.

Berbagai pihak yang terlibat berharap bahwa panduan yang akan dihasilkan oleh DJK dapat menjadi acuan bagi seluruh perusahaan pembangkit untuk menghitung dan melaporkan upaya mitigasi gas rumah kaca di lingkup unit pembangkitnya. Selain itu, DJK Kementerian ESDM dan USAID ICED II juga akan mengembangkan benchmarking kinerja sektor pembangkit, yang akan menjadi tolak ukur efisiensi pembangkit di Indonesia.

Dalam dokumen nationally determined contribution (NDC) yang berisi upaya negara untuk mengurangi emisi nasional dan beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim, Pemerintah Indonesia memproyeksikan emisi gas rumah kaca dari sektor energi pada tahun 2030 meningkat hampir empat kali lipat dari tahun 2010.

Dengan demikian, fokus program mitigasi emisi gas rumah kaca nasional akan beralih dari sektor lahan ke sektor energi. Dari target Indonesia untuk menurunkan emisi sebesar 29 persen melalui usaha sendiri pada 2030, 11 persen menjadi target bagi sektor energi. Angka yang cukup besar ini memberikan tantangan tersendiri bagi Kementerian ESDM selaku penanggung jawab program pengurangan emisi gas rumah kaca sektor energi.