Pelatihan Evaluasi dan Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi

24 April 2019

Sebagai satu-satunya pihak yang dapat membeli listrik dari pembangkit listrik swasta, Perusahaan Listrik Negara (PLN) harus mumpuni dalam menilai proposal atau studi kelayakan dari pembangkit listrik swasta untuk pembangunan berbagai pembangkit listrik, termasuk pembangkit listrik tenaga baru, yaitu bioenergi yang berasal dari biomassa, biogas, dan sampah kota. Studi kelayakan sangat penting dalam proses pengembangan proyek pembangkit listrik karena studi ini menentukan kelancaran pembangunan, operasional dan pemeliharaan pembangkit listrik.

Bekerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN), USAID Indonesia Clean Energy Development (ICED) II mengadakan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas staf PLN di tingkat wilayah dalam mengkaji studi kelayakan khususnya proyek bioenergi dari pembangkit listrik swasta pada tanggal 24-26 April 2019 di Batam. Pelatihan serupa telah diselenggarakan sebanyak dua kali yaitu di Belitung pada bulan November 2018 dan di Pontianak bulan Februari 2019. Total peserta dari ketiga pelatihan adalah 91 peserta yang terdiri dari staf PLN maupun Kementerian Energi Sumber Daya dan Mineral (ESDM) di berbagai wilayah Indonesia.

USAID ICED II menyusun sebuah panduan agar staf PLN dapat mengkaji sendiri studi kelayakan proyek bioenergi yang mereka peroleh dari pembangkit listrik swasta. Panduan tersebut menggabungkan berbagai faktor seperti koneksi kelayakan jaringan PLN, kompetensi perusahaan, kapasitas pembiayaan, bahan baku, kualitas dan kuantitas serta sistem tenaga bioenergi.

Dalam pembukaan acara “Pelatihan Evaluasi dan Studi Kelayakan Pembangkit Listrik Tenaga Bioenergi,” Yogi Mahagun, Asisten Engineer Bioenergi, PLN Divisi Energi Baru Terbarukan (EBT) menyampaikan apresiasinya kepada USAID ICED II atas pelatihan yang diberikan.

“Berkat guideline dan tools yang dibuat oleh tim USAID ICED II, kami (PLN) bisa melakuan evaluasi proyek-proyek PLTSa (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) yang banyak berdatangan setelah diterbitkannya Perpres (Peraturan Presiden) no. 35 tahun 2018,” kata Yogi.

Isi Perpres tersebut menunjuk 12 kota sebagai proyek pilot pengolah sampah menjadi energi. Yogi menambahkan, bahwa PLN telah mengaplikasikan guideline dan tools yang dikembangkan oleh USAID ICED II untuk evaluasi PLTSa Solo yang telah mendapatkan Power Purchase Agreement (PPA) pada tahun 2018. Pedoman ini juga telah digunakan untuk PLTSa Sunter yang diharapkan akan mendapatkan PPA tahun ini.

Tak hanya mendapatkan pelatihan untuk menilai proposal studi kelayakan, para peserta juga melakukan kunjungan ke PLTSa atau yang dikenal dengan Keppel Seghers Tuas Waste-to-Energy plant di Singapura. Kunjungan ini bertujuan agar peserta mendapatkan pemahaman menyeluruh mengenai cara PLTSa beroperasi. Kunjungan serupa juga dilakukan pada pelatihan sebelumnya dengan mengunjungi pembngkit listrik tenaga biogas (PLTBg) di Belitung dan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBm) di Siantan, Pontianak.

Keppel Seghers Tuas Waste-to-Energy plant merupakan incinerator kelima yang dimiliki oleh Singapura. Menggunakan proses pembakaran dan teknologi monitoring emisi gas buang, pembangkit tersebut mampu mengkonversi 800-ton limbah padat setiap hari untuk menghasilkan 22MW energi hijau, mengurangi 90% dari volume limbah dalam proses.

Menempati hanya 1,6 hektar tanah, Keppel Seghers Tuas Waste-to-Energy plant merupakan salah satu PLTSa yang paling padat di dunia dan dapat membakar sampah sepanjang tahun. Keppel Seghers Tuas Waste-to-Energy plant dikembangkan pada tahun 2006 dan mulai beroperasi sejak Oktober 2009.

Tujuan akhir dari sebuah PLTSa adalah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Secara sederhana, proses kerja PLTSa adalah membakar sampah untuk menghasilkan panas. Panas yang timbul digunakan untuk memanaskan air. Uap air yang muncul menggerakan turbin sehingga turbin bisa menghasilkan listrik.