Standardisasi Baru untuk Penilaian Studi Kelayakan

23 April 2019

Berkolaborasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN), USAID Indonesia Clean Energy Development (ICED) II mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas staf PLN dalam mengkaji proposal pembangkit listrik swasta (IPP) pada tanggal 24 – 26 April 2019 di Batam. Kemampuan ini sangat dibutuhkan agar baik PLN pusat maupun daerah mempunyai alat ukur yang sama dalam menganalisa proposal studi kelayakan pembangkit listrik tenaga bioenergi.

Peserta dari PLN Regional Jawa bagian Timur mengatakan bahwa pelatihan ini sangat bermanfaat karena panduan dari USAID ICED II membuat adanya penyeragaman informasi. Dia bercerita bahwa awalnya semua orang menilai proposal studi kelayakan dengan standard yang berbeda-beda. Hal ini menyulitkan karena yang mengerti alasan nilai suatu proposal hanya reviewer. Adanya guidelines dan tools dari USAID ICED II, membuat semuanya menjadi lebih sistematis sehingga hasilnya bisa dibaca dan dipahami oleh siapapun.

Para peserta tidak hanya mendapatkan materi panduan penilaian proposal studi kelayakan, tetapi juga kesempatan untuk berkunjung ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Keppel Seghers di Tuas, Singapura. Kunjungan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang jelas dan detail mengenai cara beroperasi fasilitas PLTSa.

“Kunjungan ini membantu saya memahami bagaimana PLTSa bekerja sehingga ketika melakukan diskusi mengenai PLTSa, saya tahu persis seperti apa bentuk nyatanya.” Ungkap peserta dari PLN Regional Jawa bagian Timur.

Hal senada juga diungkapkan oleh peserta dari PLN Regional Sumatra dan Regional Jawa Barat. “Pelatihan penilaian proposal dan kunjungan ke PLTSa ini membuat kami lebih paham bagaimana sebuah PLTSa dijalankan. Terutama untuk tantangan mengoperasikan PLTSa, ini merupakan informasi yang berharga bagi kami karena pembangkit ini belum ada di Indonesia”

Salah satu peserta dari PLN Unit Induk Wilayah Sulut, Tengah dan Gorontalo menyatakan rasa ingin tahunya akan metode penyimpanan sampah sebelum sampah diproses oleh pembangkit listrik.

“Ini merupakan pertama kalinya saya mengikuti pelatihan. Panduan penilaian yang diajarkan oleh USAI ICED II sangat bagus dan mudah dimengerti sehingga ketika nanti saya melakukan knowledge sharing di kantor, akan mudah diikuti oleh rekan-rekan di kantor. Saya juga senang bisa melihat wujud asli dari PLTSa karena saya ingin tahu bagaimana mereka (PLTSa) menyimpan sampah di lahan yang sempit.”

Kepala Divisi Energi Baru dan Terbarukan PT PLN (Persero) Zulfikar Manggau yang ikut serta dalam kunjungan ke PLTSa Tuas mengatakan bahwa pemerintah harus bekerja lebih keras lagi untuk meningkatkan penggunaan energi baru terbarukan terutama pemanfaatan sampah.

“Pemerintah harus di depan jika ingin mengembangkan PLTSa. Kita mempunyai banyak feedstock, sayang jika tidak dimanfaatkan”.

Tak hanya itu, Zulfikar juga menghargai pelatihan yang diberikan oleh USAID ICED II bagi staf PLN. “Materi yang diajarkan sangat bagus, mudah diaplikasikan dan dapat langsung digunakan oleh teman-teman. Ini sangat membantu karena ke depannya akan banyak pembangkit listrik tenaga bioenergi yang dibangun. Saya rasa, PLN sekarang mampu mengevaluasi proposal studi kelayakan dengan baik.”

Sebangyak 26 peserta (19 laki-laki dan 7 perempuan) yang berasal dari PLN berbagai wilayah berpartisipasi aktif dalam pelatihan yang diselenggarakan USAID ICED II.