Pelatihan Pedoman Pengkajian Pembangkit Listrik Energi Terbarukan untuk PLN

10 Desember 2019

Bersama Perusahaan Listrik Negara (PLN), USAID Indonesia Clean Energy Development (ICED) II mengadakan dua pelatihan mengenai pedoman untuk mengkaji studi kelayakan proyek pembangkit listrik tenaga energi terbarukan. Untuk teknologi tenaga angin, pelatihan berlangsung pada 20-21 November 2019 di PLN Corporate University (PLN Corpu), Jakarta. Sedangkan pelatihan kedua dengan topik teknologi tenaga surya (PLTS) berlangsung pada 2-4 Desember, 2019 di PLN Pusat Enjiniring Ketenagalistrikan (PLN Pusenlis), Jakarta. Sebanyak 20 peserta menghadiri pelatihan pertama dan 60 perserta mengikuti pelatihan kedua. Para peserta terdiri dari staf PLN kantor pusat dan regional serta staf Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (KESDM).

PLN Divisi Energi Baru Terbarukan (PLN EBT) dan USAID ICED II telah mengembangkan pedoman mengenai pembangkit listrik energi terbarukan yang terdiri dari pedoman pembangkit listrik tenaga angin, tenaga surya dan model pembiayaan investasi proyek pembangkit listrik energi terbarukan.

Tujuan mengembangkan pedoman tersebut adalah untuk meningkatkan efisiensi, kualitas tinjuauan serta memastikan konsistensi kantor regional PLN dalam menilaian proposal dari pembangkit listrik swasta (PLS) berdasarkan perjanjian jual beli tenaga listrik (PJBL).

Liasta S. Tarigan, Senior Manager Bidang Energi Baru Terbarukan, PLN Pusenlis, berharap banyak enjineer PLN yang dapat berpartisipasi dalam lokakarya seperti ini untuk meningkatkan kompetensi mereka. “Ini khususnya untuk enjinir Pusenlis yang merupakan center of excellence dari PT PLN.”

Dwi Listiawati, Manajer Senior Pembelajaran Teknis PLN Pusdiklat, menyampaikan bahwa 42 unit PLN mengikuti lokakarya ini. Dwi berharap lokakarya ini dapat mempercepat penyebaran ilmu ke masing-masing unit. Beliau menekankan bahwa PLN sangat memerlukan staf dengan kompetensi yang baik untuk memeriksa proposal studi kelayakan PLTS.  Kompetensi yang baik tersebut akan membantu PLN mencapai target EBT nasional sebesar 23%.

Tak hanya itu, Budi Mulyono, Vice President Aneka Energi, PLN Divisi EBT, menyinggung tentang tanggung jawab PLN wilayah untuk menyelenggarakan proses pengadaan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) dan PLTS yang berkapasitas di bawah 10 MW. Hal ini sesuai dengan Peraturan Direksi (Perdir) PLN No. 022/2017.  “Maka penting bagi unit-unit wilayah, tak hanya unit-unit pusat, untuk memahami evaluasi studi kelayakan proyek pembangkit listrik terbarukan.”

PLN wilayah di seluruh Indonesia mempunyai tugas untuk meninjau studi kelayakan dari proyek pembangkit listrik yang diajukan oleh pembangkit listrik swasta sebagai bagian dari negosiasi perjanjian jual beli tenaga listrik.

Harapannya setelah mengikuti pelatihan ini, setiap peserta mempunyai pengetahuan yang mumpuni dan mampu menerapan pedoman dalam mengevaluasi proposal dari pembangkit listrik swasta. Tak hanya itu, dengan mempelajari model keuangan pengembangan investasi proyek pembangkit listrik energi terbarukan, peserta mampu menganalisa tingkat kelayakan finansial dari investasi proyek pembangkit listrik energi terbarukan.

Pedoman ini memasukkan berbagai faktor yang mempengaruhi kelayakan seperti kelayakan interkoneksi ke jaringan PLN, kompetensi portofolio perusahaan, kapasitas pendanaan; serta aspek teknis lainnya seperti perkiraan angin dan masuknya iradiasi tenaga surya, ukuran sistem tenaga angin dan listrik surya atap, pemilihan lokasi proyek dan risiko lingkungan.