Diskusi Hasil Kajian Benchmarking Kinerja & Emisi GRK serta Penetapan Nilai Ambang Batas Emisi GRK di Sektor Pembangkitan Tenaga Listrik

29 Januari 2020

Bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), USAID Indonesia Clean Energy Development II (ICED II) mengembangkan kajian benchmarking kinerja dan emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pembangkitan tenaga listrik pada 21 Januari 2020 di Jakarta. Sebanyak 94 peserta yang terdiri dari perwakilan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK), Kementerian ESDM, Perusahaan Listrik Negara (PLN), Asosiasi dan para tenaga ahli mengikuti kegiatan diskusi ini.

Pertemuan merupakan tindak lanjut dari FGD pada tanggal 15 Oktober 2019 di Bogor. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mendapatkan masukan dan tanggapan terhadap hasil kajian dari Kementerian/Lembaga, dan pelaku usaha/asosiasi di bidang ketenagalistrikan dengan memperhatikan kondisi operasional pembangkit listrik agar nilai cap dan benchmarking tools dapat diimplementasikan pada seluruh unit pembangkit listrik. Terdapat berbagai tahapan yang perlu dilakukan agar cap emisi GRK dapat diberlakukan sehingga efisiensi pada pembangkit listrik dapat meningkat dan proses kinerja pembangkit listrik akan semakin baik.

Rencana pemberlakuan nilai cap emisi GRK sejalan dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 2017 tentang Instrumen Ekonomi Lingkungan dan Peraturan Menteri ESDM Nomor 22 Tahun 2019 tentang Pedoman Penyelenggraan Inventarisasi dan Mitigasi Gas Rumah Kaca Bidang Energi, yang menyatakan bahwa penetapan alokasi kuota sebagai salah satu kegiatan aksi mitigasi GRK.

Hariyanto, Direktur dari Direktorat Konservasi Energi (DEK) Kementerian ESDM dalam pembukaan diskusi mengatakan bahwa mitigasi emisi gas rumah kaca (GRK) berkaitan erat dengan kinerja pembangkit.

“Jika kinerja pembangkit meningkat, maka dapat menurunkan emisi GRK.”

Hariyanto berharap benchmarking kinerja dan emisi GRK akan menjadi fondasi sistem manajemen energi. “Ini merupakan kunci untuk melakukan efisiensi energi” ujarnya.

Wanhar, Direktur Teknik dan Lingkungan Ketenagalistrikan, Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan (DJK) Kementerian ESDM pun turut hadir dalam kegiatan diskusi ini. Wanhar berharap baik sektor energi dan transportasi bisa memenuhi target pengurangan emisi GRK yang ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia.

“Berdasarkan data profil emisi GRK yang telah dikembangkan, sektor pembangkit listrik merupakan salah satu kontributor terbesar emisi GRK dari sektor energi. DJK Kementerian ESDM telah mengembangkan sistem pelaporan emisi GRK online (APPLE Gatrik). Perusahaan pembangkit dapat melaporkan data tingkat emisi GRK langsung kepada pemerintah.”

Kegiatan ini diharapkan juga dapat  mendukung upaya pemerintah Indonesia untuk menurunkan jumlah emisi Gas Rumah Kaca sebagaimana tercantum dalam dokumen Nationally Determined Contribution (NDC), dimana salah satunya adalah target penurunan emisi GRK di sektor energi sebesar 314 JutaTon CO2 di tahun 2030 atau sebesar 11%, termasuk diantaranya emisi GRK dari sub sektor pembangkitan tenaga listrik.